Kehidupan Kristus

Senin, 30 Juli 2012 0 komentar
Walaupun pasal 26-28 dari Injil Matius menceritakan hanya 1 minggu terakhir dari kehidupan Kristus, namun pasal-pasal ini mengambil porsi yang begitu banyak.
Injil Kristus, penderitaan dan kematian Kristus menjadi fokus dari kehidupan para rasul. Rasul Paulus mengatakan kepada jemaat di Korintus bahwa ia memutuskan untuk tidak mengetahui apapun kecuali Kristus Yesus dan Ia yang disalibkan. Berita yang Paulus beritakan adalah Kristus yang disalibkan. Perenungan tentang salib Kristus seharusnya mempengaruhi kehidupan kita secara mendasar. Apa pentingnya kita memikirkan tentang salib Kristus? Kita menjadi Kristen adalah karena Kristus yang menebus kita.
Mengerti tentang penderitaan Kristus dan kematiannya akan mempengaruhi hidup kita sehari-hari, bagaimana kita menjalani hidup dan tujuan hidup kita. Mengerti tentang salib Kristus juga akan mempengaruhi relasi kita satu dengan yang lain.

Dalam Injil Matius, ketika murid–murid berseteru tentang siapa yang lebih besar, Tuhan Yesus justru menceritakan bahwa Ia akan mati dan disalibkan. Rasul Paulus mengaplikasikan dalam surat kepada jemaat di Filipi dengan mengatakan hendaklah engkau menganggap yang lain lebih utama dari dirimu sendiri seperti Kristus yang mengosongkan diri bahkan menderita dan mati disalib. Salib Kristus juga mempengaruhi relasi kita dengan orang-orang non-Kristen. Kita mencontoh Kristus yang mati bagi orang-orang yang melawan Dia. Menyadari kita diselamatkan hanya karena anugerah mempengaruhi bagaimana kita bersikap kepada orang-orang lain. Selain itu, salib Kristus juga mempengaruhi relasi suami istri. Relasi suami istri digambarkan seperti Kristus yang mengasihi jemaat. Salib Kristus mempengaruhi begitu banyak aspek dalam kehidupan kita.

Dalam pembahasan hari ini, kita akan melihat salib sebagai suatu kebodohan dan batu sandungan bagi orang-orang yang akan binasa.
Hal ini dinyatakan dalam ayat-ayat dimana terdapat kata-kata hujatan terhadap Yesus, seperti “Jika Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu.” Kalimat dari ahli Taurat dan orang-orang Farisi ini persis seperti perkataan iblis ketika menguji Tuhan Yesus di Matius 4, “Jika engkau Anak Allah, ubahlah batu ini menjadi roti.” Ada orang-orang yang berpikir seperti ahli Taurat dan orang-orang Farisi, “Jika Engkau Anak Allah, turutilah apa yang aku minta”, “Jika Engkau Anak Allah, buktikan bahwa Engkau Anak Allah!” Ini adalah perkataan anak-anak iblis yang mencobai Tuhan Yesus. Justru karena Ia adalah Anak Allah, Ia tidak turun dari salib. Ia datang untuk menyerahkan diri-Nya disalibkan. J.C. Ryle mengatakan “Apakah Ia disesah? Supaya oleh bilur-bilurNya kita menjadi sembuh. Apakah Ia dihukum meskipun Ia tidak bersalah? Supaya kita yang bersalah bebas dari hukuman. Apakah Ia memakai mahkota duri? Supaya kita boleh memakai mahkota kemuliaan. Apakah Ia ditelanjangi? Supaya kita boleh memakai baju kebenaran yang kekal. Apakah Ia diejek dan dihina? Supaya kita boleh dimuliakan dan diberkati. Apakah Ia diolok, tidak bisa menyelamatkan diri sendiri? Supaya Ia boleh menyelamatkan setiap orang yang percaya kepadaNya. Apakah Ia mati dengan cara yang menyakitkan dan mengerikan? Supaya kita boleh hidup selamanya dan ditinggikan dalam kemuliaan.” Inilah paradoks-paradoks yang tidak dimengerti oleh orang-orang yang menyalibkan Kristus. Biarlah kita yang sudah percaya boleh mengerti lebih dalam.

Kita juga melihat bahwa Kristus datang ke dalam dunia di tengah-tengah umat–Nya tapi ditolak oleh umat-Nya sendiri. Pemimpin-pemimpin agama dan orang banyak mengolok-olok Dia. Bahkan penjahat yang disalibkan bersama Dia pun menolak Dia. Ini menggambarkan total rejection of Jesus Christ by His own people – penolakan total kepada Yesus Kristus oleh umat-Nya sendiri . Seorang penulis bernama Tasker mengatakan Yesus ditolak oleh 3 macam orang berdosa: ignorant sinners, religious sinners, dan condemned sinners. Yang pertama, ignorant sinners, adalah orang banyak yaitu orang-orang yang tidak mengerti. Sebagian mungkin ikut Tuhan Yesus karena Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang.

Mereka ikut Tuhan Yesus karena roti. Mereka tidak mengerti dan ketika Tuhan Yesus mengajarkan kalimat yang keras atau ditangkap oleh pemimpin agama, mereka meninggalkan Dia. Kelompok kedua adalah religious sinners. Mereka adalah orang-orang yang mengerti. Mereka sesungguhnya tidak menemukan kesalahan pada Tuhan Yesus. Tetapi karena iri hati dan dengki, maka mereka menyalibkan Tuhan Yesus. Kelompok ketiga adalah condemned sinners. Orang-orang pendosa yang sudah dinyatakan bersalah secara umum. Merekapun mencela Tuhan Yesus. Kita tahu dari Injil yang lain bahwa satu dari orang-orang yang disalibkan bersama Tuhan Yesus bertobat. Demikian pula sebagian dari ignorant sinners, religious sinners, serta condemned sinners ini juga ada yang bertobat.

Total rejection of Jesus Christ by His own people ini menandakan suatu sejarah baru dalam apa yang Allah kerjakan untuk menyelamatkan umat-Nya. Umat Allah, bangsa Israel, menolak keselamatan dari Tuhan, maka umat pilihan itu bergeser. Bukan lagi bangsa Israel tetapi Israel rohani yaitu gereja. Sesungguhnya dalam rencana kekekalan Allah, umat pilihan Tuhan bukan hanya bangsa Israel tetapi segala bangsa.

Kita akan merenungkan lebih lanjut lagi pada paradoks-paradoks seputar penyaliban Kristus.

Ayat 36 mengatakan “…dan di atas kepalaNya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum, 
Inilah Yesus Raja orang Yahudi.”
Yohanes 19:19-22 mengatakan orang-orang Yahudi meminta kepada Pilatus supaya mengganti tulisan itu dengan “Ia mengatakan bahwa Ia adalah Raja orang Yahudi.” Tetapi Pilatus menolak untuk mengganti tulisan itu. Kita melihat bagaimana Allah bekerja dalam hal-hal yang detail. Orang-orang Yahudi sungguh-sungguh menyalibkan raja mereka sendiri.

Ayat 40 mengatakan mereka mengolok-olok Tuhan Yesus, “Jika Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu.” Sesungguhnya justru karena Ia Anak Allah, maka Ia tidak turun dari salib itu. Banyak kebenaran-kebenaran dari olok-olok itu yang tidak mereka sadari.

Ayat 42 mengatakan mereka mengolok-olok Yesus sebagai Raja Israel. Seluruh Injil Matius bertujuan untuk menyampaikan bahwa Yesus adalah Raja Israel. Matius 1:1 mengatakan “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud…” Mereka menanti-nantikan anak Daud dan Yesus itulah anak Daud yang agung. Yesus adalah sungguh-sungguh Raja Israel yang mereka nanti-nantikan.

Ayat 43 mengatakan “Ia menaruh harapannya pada Allah, baiklah Allah menyelamatkan Dia jikalau Allah berkenan kepada-Nya…”
Musuh-musuh Tuhan Yesus pun bisa melihat bahwa Ia menaruh harapan-Nya pada Allah. Kalimat ini dinyatakan untuk mengolok-olok tapi mereka sesungguhnya melihat sesuatu yang benar. Seluruh hidup Tuhan Yesus menunjukkan bagaimana Ia berharap pada Allah. Ini memberikan pengertian bagaimana Tuhan Yesus menjadi manusia sama seperti kita. Ia menghadapi segala macam tantangan dan pencobaan tetapi Ia terus berharap pada Allah. Hidup yang bergantung pada Allah dinyatakan dalam kehidupan doa Tuhan Yesus. Injil Markus menggambarkan bagaimana Tuhan Yesus begitu sibuk memberitakan Injil, mengajar dan menggembalakan tetapi pagi-pagi benar Ia menyendiri untuk berdoa. Mari kita bertumbuh bersama-sama.

Mari kita menggantungkan hidup kita hanya kepada Allah.

0 komentar:

Posting Komentar

 

©Copyright 2011 Aris 2d3mi01 Tugas Agama | TNB